Sabtu, 27 Desember 2014

Cerita Indah Tiada Akhir

Pagi itu ketika awan merah muncul seiring dengan menyingsing nya fajar aku terbangun dan bergegas pulang ke rumahku. di ketuk nya kaca kamar depan yang tak lain adalah kamar kakak ku supaya ia bangun dan dapat membukakan pintu untuk nya.
Hari pun menjelang siang, si anak pun bergegas untuk berangkat ke kampus beberapa uang koin untuk bekal nya hari ini. "kau ngeantuk? Ini baru jam 8 lho!!!" tanya seorang teman padanya. "enggak, ini mungkin cuman kurang istirahat aja" tegasnya.
Duduk di deretan belakang adalah tempat favorit buatku, walaupun katanya kalau dibelakang gak bakal dapet apa-apa dari sang pengajar. tapi, buat apa duduk didepan??buat apa pintar?? toh prestasi tak akan memberi apa-apa pada diri seseorang. dikelas itu terdapat lebih dari 20 orang pelajar, dan ini perkuliahan lo, dimana katanya dosen hanya memberikan 25% dari proses pembelajaran, jadi dengan bobot murid segitu apa gak terlalu takut gak dapet apa-apa kalo duduk dibelakang???? entahlah, aku tak terlalu mengerti tentang teknis akademi yang seperti itu. yang aku tahu aku masuk kelas, mengikuti pembelajaran dan pulang setelah semua selesai.
sudah hampir 3 tahun berlalu dan sekarang semester 5. Seperti biasa deretan bangku belakang adalah tempat favoritku duduk, tapi ada yang aneh hari itu, ketika sosok perempuan berkerudung kuning dengan perawakan yag tak terlalu besar menyuruhku untuk tak lagi duduk dibelakang. “sekarang udah semester 5, duduknya didepan aja”, himbaunya. Tanpa pikir panjang aku pun meng-iyakan himbauan nya dan mulai duduk didepan. Ya katanya sih kalo duduk didepan bakal nambah kita pinter, walaupun sebenarnya aku tak merasakan apa-apa, yang sedikit beda adalah aku selalu duduk disamping seorang wanita yang terlalu berambisi untuk terlihat sempurna.
Waktu berlalu sangat cepat, aku seorang anak slengean yang pura-pura sebagai anak pintar masih duduk dideretan depan bersama dia wanita yang secara tak sadar ku sukai. Entah bagaimana terjadi, tapi inilah kenyataan nya. Ya aku mulai sadar di penghujung semester ini aku menggali jurang kebodohan untuk menyukai seseorang yang jelas-jelas memiliki pasangan, hati kecil berkata: “tidak kah ini menggelikan?? Kau akan tahu siapa yang akan terjadi jika langkah ini terus berjalan!”. Tapi ku abaikan saja perkataan itu, toh mungkin ini hanya lelucon atau orang bilang ini cinta monyet. Toh mana mungkin sih seorang perfeksionis mau serius dengan anak slengean, pikirku dalam hati.
Kring-kring alarm berbunyi, ternyata jam menunjukan pukul 06.00 hari ini  ada penjadwalan kelompok KKN di kampus, aku sangat malas untuk menghadiri nya. Bahkan buat ku itu hal yang tak penting, karena dimanapun aku ditempatkan aku bakal berusaha untuk tetap dekat dengan si perfeksionis. Tak lama, kabar pengumuman pun diumumkan dan benar saja aku tak sekelompok dengan nya, ada lah sedikit rasa kesal ketika mengetahui hal tersebut, ku tutupi rasa itu dengan sikap ku yang terlanjur dikenal sebagai anak urakan. Sejenak ku renungkan bahwa suasana KKN tak lebih dari sekedar kumpul kebo sama proker-proker tai kucing nya itu membuat aku khawatir dengan si gadis yang ku sukai. Dalam jangka waktu kurang dari 6 jam ku putuskan untuk mengambil langkah yang sangat berpengaruh untuk hidupku dan juga resiko yang kutanggung nanti akan menjadi sangat berat.
Di hari yang sama, mentari mulai tenggelam segera ku persiapkan segala hal untuk langkah yang akan kuambil, deretan kata-kata tak ku rangkai karena memang aku kurang mampu menjadi orang yang romantis atau bahakan menjadi seorang pujangga. Well, beberapa batang rokok menemani ku untuk memulai percakapan yang tak tahu harus dari mana kumulai. Karena aku tahu aku tak mungkin membahas cinta dengan nya, itu sama saja dengan membicarakan lelucon yang habis ketika ditertawakan. Akhirnya aku putuskan untuk ku mulai pembicaraan yang langsung mengarah pada inti nya, dengan nada yang tak terlalu lancar aku mulai bertanya, pernahkah kamu menyukai laki-laki lain selain pacar kamu? O iya, kalau pernah bagaimana itu bisa terjadi? Tanpa ada keragu-raguan jawaban demi jawaban dijawabnya secara jelas. Dan kuajukan pertanyaan terakhir yang akan menentukan langkah selanjutnya, pertanyaan yang sederhana dan membuat banyak cerita dimasa depan setelah aku mengatakan nya. Bisakah kamu mengulang kejadian yang sama dengan orang yang berbeda?

To be continue.... :-D

Tidak ada komentar:

Posting Komentar