Pagi itu ketika awan merah muncul seiring dengan menyingsing nya fajar aku
terbangun dan bergegas pulang ke rumahku. di ketuk nya kaca kamar depan yang
tak lain adalah kamar kakak ku supaya ia bangun dan dapat membukakan pintu
untuk nya.
Hari pun menjelang siang, si anak pun bergegas untuk berangkat ke kampus
beberapa uang koin untuk bekal nya hari ini. "kau ngeantuk? Ini baru jam 8
lho!!!" tanya seorang teman padanya. "enggak, ini mungkin cuman
kurang istirahat aja" tegasnya.
Duduk di deretan belakang adalah tempat favorit buatku, walaupun katanya
kalau dibelakang gak bakal dapet apa-apa dari sang pengajar. tapi, buat apa
duduk didepan??buat apa pintar?? toh prestasi tak akan memberi apa-apa pada
diri seseorang. dikelas itu terdapat lebih dari 20 orang pelajar, dan ini
perkuliahan lo, dimana katanya dosen hanya memberikan 25% dari proses
pembelajaran, jadi dengan bobot murid segitu apa gak terlalu takut gak dapet
apa-apa kalo duduk dibelakang???? entahlah, aku tak terlalu mengerti tentang
teknis akademi yang seperti itu. yang aku tahu aku masuk kelas, mengikuti
pembelajaran dan pulang setelah semua selesai.
sudah hampir 3 tahun berlalu dan sekarang semester 5. Seperti biasa deretan
bangku belakang adalah tempat favoritku duduk, tapi ada yang aneh hari itu,
ketika sosok perempuan berkerudung kuning dengan perawakan yag tak terlalu
besar menyuruhku untuk tak lagi duduk dibelakang. “sekarang udah semester 5,
duduknya didepan aja”, himbaunya. Tanpa pikir panjang aku pun meng-iyakan himbauan
nya dan mulai duduk didepan. Ya katanya sih kalo duduk didepan bakal nambah
kita pinter, walaupun sebenarnya aku tak merasakan apa-apa, yang sedikit beda
adalah aku selalu duduk disamping seorang wanita yang terlalu berambisi untuk
terlihat sempurna.
Waktu berlalu sangat cepat, aku seorang anak slengean yang pura-pura
sebagai anak pintar masih duduk dideretan depan bersama dia wanita yang secara
tak sadar ku sukai. Entah bagaimana terjadi, tapi inilah kenyataan nya. Ya aku
mulai sadar di penghujung semester ini aku menggali jurang kebodohan untuk
menyukai seseorang yang jelas-jelas memiliki pasangan, hati kecil berkata: “tidak
kah ini menggelikan?? Kau akan tahu siapa yang akan terjadi jika langkah ini
terus berjalan!”. Tapi ku abaikan saja perkataan itu, toh mungkin ini hanya
lelucon atau orang bilang ini cinta monyet. Toh mana mungkin sih seorang
perfeksionis mau serius dengan anak slengean, pikirku dalam hati.
Kring-kring alarm berbunyi, ternyata jam menunjukan pukul 06.00 hari ini ada penjadwalan kelompok KKN di kampus, aku sangat
malas untuk menghadiri nya. Bahkan buat ku itu hal yang tak penting, karena
dimanapun aku ditempatkan aku bakal berusaha untuk tetap dekat dengan si
perfeksionis. Tak lama, kabar pengumuman pun diumumkan dan benar saja aku tak
sekelompok dengan nya, ada lah sedikit rasa kesal ketika mengetahui hal
tersebut, ku tutupi rasa itu dengan sikap ku yang terlanjur dikenal sebagai
anak urakan. Sejenak ku renungkan bahwa suasana KKN tak lebih dari sekedar
kumpul kebo sama proker-proker tai kucing nya itu membuat aku khawatir dengan si
gadis yang ku sukai. Dalam jangka waktu kurang dari 6 jam ku putuskan untuk
mengambil langkah yang sangat berpengaruh untuk hidupku dan juga resiko yang
kutanggung nanti akan menjadi sangat berat.
Di hari yang sama, mentari mulai tenggelam segera ku persiapkan segala hal
untuk langkah yang akan kuambil, deretan kata-kata tak ku rangkai karena memang
aku kurang mampu menjadi orang yang romantis atau bahakan menjadi seorang
pujangga. Well, beberapa batang rokok menemani ku untuk memulai percakapan yang
tak tahu harus dari mana kumulai. Karena aku tahu aku tak mungkin membahas
cinta dengan nya, itu sama saja dengan membicarakan lelucon yang habis ketika
ditertawakan. Akhirnya aku putuskan untuk ku mulai pembicaraan yang langsung
mengarah pada inti nya, dengan nada yang tak terlalu lancar aku mulai bertanya,
pernahkah kamu menyukai laki-laki lain selain pacar kamu? O iya, kalau pernah
bagaimana itu bisa terjadi? Tanpa ada keragu-raguan jawaban demi jawaban dijawabnya
secara jelas. Dan kuajukan pertanyaan terakhir yang akan menentukan langkah
selanjutnya, pertanyaan yang sederhana dan membuat banyak cerita dimasa depan
setelah aku mengatakan nya. Bisakah kamu mengulang kejadian yang sama dengan
orang yang berbeda?
To be continue.... :-D